Selasa, 15 Maret 2011

Ketentuan Hukum Darah Kebiasaan Wanita (Nifas)

Apabila seorang wanita melahirkan namun tidak melihat ada darah keluar.

Tidak dikategorikan ke dalam hukum nifas, tidak wajib mandi dan tidak membatalkan puasanya.

Apabila melihat tanda tanda melahirkan

Darah dan cairan yang diiringi oleh rasa sakit beberapa waktu sebelum melahirkan tidak termasuk nifas, tapi istihadhah.


Darah yang keluar dari wanita saat melahirkan

Darah ini adalah darah nifas, walau anak yang akan dilahirkan belum keluar atau baru keluar separuh badan, maka tidak wajib mengqadha’ shalat yang ditinggalkan pada kondisi tersebut

Kapan dimulai hitungan hari nifas?

Setelah janin keluar dari perut ibunya ke bumi secara sempurna.

Berapa minimal hari nifas?

Tidak ada batasan minimal, jika ia melahirkan kemudian darahnya langsung berhenti setelah melahirkan, maka wajib mandi, shalat, dan tidak perlu menunggu sampai lengkap 40 hari

Berapa batas maksimal masa nifas ?

Empat puluh (40) hari, apabila lebih dari itu, tidak dianggap nifas lagi, oleh karena itu wajib mandi dan shalat kecuali bertepatan dengan waktu haid sebelum hamil, maka itu diangap darah haid.

Wanita yang melahirkan dua anak kembar atau lebih.

Masa nifasnya dimulai setelah melahirkan anak yang pertama.

Apakah hukum darah yang keluar setelah keguguran.

Apabila umur janin yang keguguran delapan puluh hari atau kurang, maka darah yang keluar adalah darah istihadhah, apabila setelah sembilan puluh hari maka darah itu adalah darah nifas, apabila masanya antara delapan puluh dan sembilan puluh hari, maka hukumnya tergantung kepada bentuk fisik janin, apabila bentuknya lebih menyerupai bayi manusia, maka darah itu adalah darah nifas, apabila belum berbentuk manusia, maka itu adalah darah istihadhah.

Apabila sebelum empat puluh hari dia sudah suci, kemudian darah datang lagi sebelum masa empat puluh hari habis.

Tanda suci yang dilihat oleh wanita dalam masa empat puluh hari nifas, itu adalah suci, maka harus mandi suci dari nifas dan mengerjakan shalat. Apabila darah itu datang lagi selama masih dalam empat puluh hari, maka dikategorikan nifas. Begitu seterusnya sampai habis masa empat puluh hari.

Catatan:

* Larangan bagi wanita haid dan nifas, sama dengan larangan bagi orang yang berhadats besar.
* Wanita yang istihadhah wajib mengerjakan shalat, akan tetapi berwudhu untuk setiap shalat.
* Apabila wanita suci dari haid atau nifas sebelum maghrib, maka diharuskan mengerjakan shalat zuhur dan ashar pada hari itu, apabila dia suci sebelum terbit fajar, maka dia wajib mengerjakan shalat maghrib dan Isya pada malam itu.
* Apabila waktu shalat sudah masuk, kemudian dia haid atau nifas sebelum sempat mengerjakan shalat itu, maka wajib mengqadha’ shalat itu.
* Diwajibkan kepada wanita untuk membuka ikatan rambutnya saat mandi dari haid atau nifas, dan tidak wajib membukanya ketika mandi junub.
* Dilarang menyetubuhi wanita yang sedang haid dan nifas di kemaluannya, dan boleh bersenang-senang (menyalurkan syahwat) selain melalui kemaluan.
* Makruh hukumnya menyetubuhi wanita yang sedang istihadhah di kemaluannya, dan hal itu dibolehkan dilakukan jika diperlukan.
* Dianjurkan kepada wanita yang sedang istihadhah untuk mandi setiap kali akan mengerjakan shalat. Jika tidak mampu maka menjama’ shalat zuhur dan ashar dengan satu kali mandi. Maghrib dan isya dengan satu kali mandi, dan mandi untuk shalat subuh, sehingga semuanya menjadi tiga kali mandi sehari dan semalam. Jika dia tidak mampu juga, maka cukup mandi sekali dalam sehari, dan berwudhu untuk setiap shalat. Jika dia tidak mampu juga, maka berwudhu untuk setiap shalat setelah mandi dari haid.
* Diperbolehkan bagi wanita meminum obat penahan haid untuk sementara dalam rangka melaksanakan ibadah haji dan umrah, atau melengkapkan puasa bulan ramadhan, dengan catatan terjamin selamat dari efek samping obat tersebut.
http://www.binamuslim.com/materi-keislaman

0 komentar:

Posting Komentar

Sekretariat : Jl. Gajah Madah
Lipu,Kota Baubau, Tlp.
Email : lmdpcwibaus@gmail.com