Ini adalah kisah seorang fata (pemuda) yang dibesarkan dalam keluarga islam. Ia tumbuh normal dengan masa kecil yang ceria. Ia dididik dengan baik oleh kedua orang tuanya. Waktu pun begitu cepat berlalu, ia sudah beranjak baligh. Ia mulai mencari jawaban dari rasa ingin tahunya terhadap gejala yang muncul dalam lingkungannya. Ia mulai terpengaruh pada kebiasaan buruk pemuda sebayanya. Rasa keingintahuannya membuatnya banyak berangan-angan, menghayal tentang cinta,....
membuka majalah porno, terbuai dalam alunan musik pembangkit syahwat, tontonan seronok di televisi dan meneguk minuman keras. Kini ia telah tenggelam dalam dunia hura-hura dan gelapnya lorong-lorong maksiat. Tak puas dengan itu ia berpindah ke obat terlarang. Minuman dan penari bugil terhidang dihadapannya.
Waktu terus berlalu, ia telah mengenyam kenikmatan sesaat itu. Ia mulai jenuh dengan semuanya. Ia merasa ada yang kurang dalam hidupnya dan membuat sesak dadanya. Ia bagaikan ikan yang kehilangan air, yah kegelisahan terus menghantuinya. Ia bergumam dalam hatinya;" Duh hatiku………!. Kesedihan pun menyelimutinya.
Ia teringat dengan kedua orang tuanya. Nak, "Sesungguhnya Allah maha pengampun dan maha penyayang”. Pesan-pesan keduanya kembali terngiang ditelinganya setelah selama ini menghilang ditelan dahsyatnya gelombang hawa nafsu. Ia tersungkur dan membenamkan wajahnya dalam pasir. Lalu ia putuskan untuk kembali kepada orang tuanya. Ia berjalan tertatih-tatih menerobos kegelapan malam tanpa arah, tak ditahu kemana. Ia mencari sesuatu yang ia sendiri tak tahu, ia mengaharapkan sesuatu yang tak pernah terlintas dalam benaknya. Ia ingin menangis namun tak kuasa. Ia ingin mencurahkan perasaannya namun siapa yang akan mendengar.
Malam pun tiba, ia mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Sementara itu ia dikagetkan dengan suara adzan yang dikumandangkan di Masjid. Ia merasakan tubuhnya bergetar hebat. Keringat dinginnya keluar. Ia berusaha menjauh dari suara itu sampai akhirnya ia berlari dan menyerempet seseorang. Keduanya pun terjatuh, ia mersa bersalah lalu segera bangkit sambil mengulurkan tangannya pada orang itu dengan maksud untuk membantunya berdiri. Ia mau minta maaf namun tak kuasa untuk mengucapkannya.
Ia bertanya dalam hati; "Siapakah orang ini?. Cahaya apa yang memancar dari wajahnya?. Apakah ia seorang malaikat?.”
Orang itu adalah Syaikh (seorang laki-laki yang sudah berusia lanjut). Sang Syaikh bergumam dalam hati; "A'udzu billah minassyaithaanirrajiim, siapakah sosok pemuda ini? Syhaithan? apakah saya mimpi?”.
Pemuda itu kembali berkata dalam hati; "Ya Allah bau apakah yang sangat harum ini?. Apakah ini bau surga?”.
Syaikh; "Bau apakah yang sangat jelek ini? (bau itu tak pernah tercium olehnya sebelumnya).”
Fata; "Ya Allah pakaian apakah yang sangat indah ini? (seakan-akan ia melihat cahaya yang bersinar dari pakaian sang Syaikh).”
Syaikh; "A'udzubillah, apakah saya tidak salah lihat?. Sosok ini laki-laki atau perempuan?. Pakaian apakah yang dikenakannya?. (Ia keheranan dengan penampilan pemuda itu).”
Kemudian sang Syaikh menengadahkan pandangannya kepada si fata itu dan ia mendapati kelopak matanya kehitaman, demikian pula pada mulut dan hidungnya. Ia juga mendapati anting-anting kecil di telinganya, rambutnya acak-acakan dengan model yang aneh bagi sang Syaikh.
Suasana menjadi hening. Keduanya adalah dua sosok yang sangat berbeda dan tak pernah menyangka bisa bertemu di tempat itu. Tiba-tiba keluar suara dari mulut si fata memecah keheningan seraya berkata; "Saya minta maaf paman yang alim". Sang Syaikh tersadar dalam keheranannya dan balik bertanya padanya; "Anda ini siapa?
Si fata kaget dan seakan-akan tak percaya kalau pertanyaan itu harus ia jawab sendiri. Dengan nada keheranan ia balik bertanya; "Siapa saya?.....benar, demi Allah saya ini siapa……..demi Allah saya tidak kenal diri saya sendiri, siapa saya?
Syaikh kemudian menepuk tangannya seakan tak percaya dengan jawaban pemuda itu, ia berkata; "Miskin sekali…….demi Allah anda adalah orang termiskin yang pernah kujumpai di dunia ini".
Fata berkata dengan herannya; "Saya miskin? Saya……!
Syaikh kemudian mengulurkan tangannya seraya bertanya; "Mau kemana nak?.” Pertanyaan Syaikh kali ini semakin bersahabat, namun semakin menambah kebingungan si fata. Ia berkata; "Sampai tujuan hidupku pun saya tidak tahu. Mau kemana?. Saya tidak tahu mau ke mana………(sepertinya pemuda tersebut telah mendapati bahwa dirinya selama ini telah tersesat ketika dilontarkan pertanyaan-pertanyaan itu padanya).
Syaikh itu bertanya kembali; "Siapa anda dan mau kemana? Jawaban pemuda tersebut tetap sama; “Siapa saya? … dan mau kemana saya?. Saya tidak tahu…….saya tidak tahu…….."
Kemudian Syaikh mengulurkan kembali tangannya seraya berkata;"Maukah kau ikut bersamaku ?”
Fata; “Bersamamu?. Kemana?”
Syaikh; "Ada pun saya, tujuan hidupku jelas. Saya tahu harus kemana yaitu menuju kepada petunjuk bagi yang tersesat, ke tempat menemukan jati diri di hadapan sang Pencipta, menuju ke rumah Allah…….rumah tuhanku.
Wahai anakku apakah kamu sudah shalat? Kenapa kamu tidak shalat?...mari kita shalat! Shalat subuh yang nikmat dan indah.
Kaki si fata menjadi kaku, tak bisa digerakkan. Ia pun berkata; "ah……..saya tidak tahu". Sepertinya dua pertanyaan Syaikh itu masih mengetuk kepalanya…..siapa anda?......mau kemana anda?..........kemudian Syaikh menarik tangannya, namun seakan si fata diam membeku bagaikan seonggok es. Kemudian ia berjalan mengikuti Syaikh itu sampai akhirnya mereka berdua tiba di ambang pintu masjid.
Syaikh itu kembali menarik tangannya. Ia bagaikan menarik benda keras. Si fata tetap terdiam di depan pintu masjid. Ia melihat cahaya yang terpancar dari dalam masjid. Matanya terpaku melihat ruku' dan sujud jamaah di dalamnya. Ia memandangi papan yang bertuliskan الله dan ayat yang berbunyi;
"Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki,"(an Nuur:35)
Pemuda tersebut terdiam sejenak di depan pintu masjid, kemudian ia menoleh ke dalam masjid seraya berkata; "Apakah saya akan masuk ke tempat suci ini dalam keadaan kotor dan berlumuran dosa seperti ini?.........bagaimana mungkin saya masuk ke tempat yang penuh cahaya ini dengan kegelapan yang menyertaiku dari dosa-dosaku selama ini?, bagaimana mungkin jiwa yang kotor ini bisa bersih bercahaya dengan memasuki pintu ini?. Bagaimana mungkin masa laluku yang kelam, bergelimang dosa ini berubah diantara orang-orang shalih itu?, atau mungkinkah cahaya itu bisa memisahkannku dari apa yang kujalani selama ini?.......mungkinkah………mungkinkah…….? tidak……tidak…….(si fata ragu dengan langkahnya dan tak percaya dengan semua yang dialaminya saat itu).
Ia kemudian berhenti di tempat menanggalkan sandal di beranda masjid. Seakan-akan tempat itu menjadi pembatas antara masa lalunya dengan cahaya di hadapannya.
Syaikh itu mendesaknya masuk, namun untuk kesekian kalinya, kaki menjadi kaku, ia tak kuasa mengangkat kakinya apalagi membuka sepatunya. Terlintas di hadapannya bayangan wanita penghibur yang sering menemaninya, juga pemuda yang mengajak dan mengajarinya mencoba untuk merokok, minum minuman keras dan menikmati obat terlarang, terbayang pula wajah ayahnya yang sudah tua menanti kepulangannya. Kepulangan anaknya yang hilang entah kemana. Juga wajah ibunya yang selalu menangis berdoa untuknya siang dan malam.
Bayangan masa lalunya terus menhantuinya, ia diam kaku di tempat itu seraya berkata; "Ah…….aku telah menguras seluruh tenagaku……kemudian ia meletakkan tangannya pada daun pintu……lalu menyandarkan kepalanya seraya berkata; "Ah…..apakah saya mampu meninggalkan semua masa lalu saya?, apakah saya bisa mengubah semua ini dalam sekejap?. …..Syaikh itu tetap mendesaknya masuk. Dan pemuda itu tetap kaku berselimut keraguan; "Tidak…..tidak….saya tidak bisa. Kemudian Syaikh berkata; "Minta tolonglah kepada Allah wahai anakku….., kamu pasti bisa, masuklah…..tidakkah kamu mendengar firman Allah;
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(az Zumar:53)
Kemudian ia memandangi wajah dan tangan Syaikh, ia melihat tangan itu bersih bercahaya.
Tiba-tiba……..ia melepas tangannya dari genggaman Syaikh dengan kuat dan kerasnya, ia beranjak pergi menerobos lorong kegelapan, ia kembali pada kebiasaan buruknya. Ia pergi sambil berkata;"Saya tidak bisa…..saya tidak bisa….!!!
Ia kembali menyelami dan meneguk pahitnya samudera kegelapan. Ia menelusuri jalan. Pergi tak tentu arah dan tujuannya. Akhirnya ia memutuskan pulang, sesampainya di rumah, ia bergegas masuk kamar dan membenamkan wajahnya di bantal sambil menangis sejadi-jadinya. Ia teringat terus dengan pertemuannya dengan Syaikh. Seakan ia cahaya yang selalu hidup dalam kegelapan hidupnya.
Lalu ia duduk dan bertanya pada dirinya; "Kenapa belum bisa masuk dalam cahaya itu? Kenapa aku belum ridho?. Ia kembali meneriakkan keraguan dan kebimbangannya; "Apakah saya bisa?. Mungkinkah saya kembali padanya?. Apakah saya bisa lepas seutuhnya dari kebiasaan buruk ini?. Aku berharap ……..aku berharap. Demi Allah. Akan tetapi……..sungguh ini adalah pertanyaanku. Bagaimana caranya aku masuk ke dalam cahaya itu?
Kemudian ia mengangkat wajahnya dari bantal dan menatap kelangit-langit kamarnya. Namun ia tidak menemukan kata-kata yang bisa ia ucapkan kecuali satu kata; "Ya tuhanku, apakah suatu saat nanti saya bisa lepas dari judi, wanita, musik, mabuk siang malam?......apakah akan datang suatu masa yang aku bisa mensucikan diri dan bisa seperti Syaikh itu?. Ya tuhanku…..ya tuhanku….
Ia berpikir dan terus bertanya-tanya dan memandang langit-langit kamarnya. Siang malamnya berlalu di atas ranjangnya ia membolak balikkan badannya dan tidak keluar dari lisannya kecuali satu kata; "Ya tuhanku……..ya tuhanku……..
Hari pun berganti dan nampaknya hari ini adalah hari yang sangat panjang baginya. Setiap kali ia memejamkan mata, maka ia akan melihat bayangan dan khayalan……..ia kembali teringat dengan masa lalunya yang kelam. Terngiang lagi wajah teman-temannya. Teman yang biasa mengajaknya dalam hura-hura, salah seorang dari mereka adalah orang kaya, gagah dan seakan-akan semua kenikmatan di dunia ini telah dimilikinya. Namun, ajalnya berakhir dengan narkoba, terngiang pula wajah perempuan idamannya yang mati secara tiba-tiba tanpa sebab. Bahkan ia dalam keadaan tertidur. Terngiang pula wajah keenam sahabatnya yang mati dalam peristiwa tabrakan. Mereka mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Tubuh mereka hancur bersama mobil yang ditumpanginya.
Semua peristiwa-peristiwa itu silih berganti mengisi bayangan-banyangan dan khayalan-khayalannya. Siapa yang mati dan siapa yang masuk rumah sakit, siapa masuk penjara?. Kemudian ia bergegas berdiri dan menangis dengan kerasnya dan berkata pada dirinya; "Apa yang saya tunggu?. Apakah saya menunggu untuk mati konyol dan menjadi korban lagi seperti mereka?, ataukah lebih parah dari mereka?. Apakah saya harus mengikuti jalan-jalan mereka?.
Tiba-tiba air matanya berhenti mengalir dan kering. Ia seakan mengumpulkan kekuatannya lalu berkata; "Aku harus mengubah hidupku ini…….saya harus melawan hawa kegelapan yang senantiasa mengintai dan menungguku…….harus …harus….ya tuhanku…..ya tuhanku…..
Ia pun mengupayakan untuk melupakan masa lalunya dengan tidur. Namun tetap tak bisa. Ia tetap gelisah dalam harinya yang panjang itu sampai malam mendatanginya.
Seperti biasanya ia keluar pada awal malam dan demikianlah keadaan pecinta kegelapan. Senantiasa menghidupkan malamnya. Ia pun bertemu dan bergabung dengan teman buruknya. Ia keluar bersama mereka.
Namun, kali ini ia duduk dalam mobil dengan terdiam seribu bahasa. Ia tidak menghiraukan temannya yang sedang bercanda dan tertawa terbahak-bahak. Setibanya di diskotik ia pun tidak ikut menikmati kenikmatan kenikmatan yang disuguhkan padanya malam itu.
Ia belum bisa melupakan wajah Syaikh yang baik itu. Bahkan setiap kali ia menoleh, tiba-tiba ia di datangi oleh bayangan sang Syaikh yang mengulurkan tangannya. Dan berkata padanya; "Minta tolonglah kepada Allah, kamu pasti bisa", kemudian ia berusaha menghilangkan bayangan-bayangan itu dengan bertelekan bersama teman-temannya. Namun ia tak kuasa….kembali perkataan Syaikh terdengar olehnya; "Minta tolonglah kepada Allah kamu pasti bisa". Ista'in billah sataqdir berulang kali ia mencoba untuk melupakannya namun sepertinya ia merasa semua usahanya sia-sia saja.
Secara tiba-tiba ia berdiri dari tempat itu seraya berkata;"saya minta pamit!! terkesimalah syaithan-syaithan dari manusia yang ada di tempat itu;"ada apa denganmu?' ia menjawab;"tidak ada apa-apa". Ia berusaha dengan segala cara untuk meyakinkan teman-temannya sehingga ia bisa meninggalkan tempat maksiat itu dan pulang ke rumah.
Ia pun sampai di rumah dan menemui ayahnya. Berkata ayahnya; "Suatu kebaikan wahai anakku, tidak biasanya kamu pulang secepat ini, apa yang terjadi padamu?. Kemudian ia memeluk ayahnya sambil menangis". Sungguh saya akan mengubah manusia yang ada di hadapanmu ini wahai ayahku!".
Kemudian ia beranjak menuju kekamarnya untuk mengganti pakaiannya dan menuju ke kamara mandi. Ia mandi dengan bersihnya. Seakan ini adalah pertama kalinya ia mandi selama hidupnya. Ia menggosok gigi dengan bersih. Ia membersihkan kotoran dari kebiasaan buruknya. Ia merasakan bahwa ia benar-benar telah membersihkan dirinya kemudian ia bersyahadat ;"laa ilaaha illallah" seperti halnya orang yang baru masuk Islam. Lalu ia menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar dengan penuh harap untuk mendapatkan rahmat turun dari langit.
Kemudian ia berpakaian dengan rapi. Ia keluar menemui ibunya. Kepalanya tertunduk seraya berkata; "Maafkanlah anakmu ini wahai ibuku…..dimanakah sajadah? Dan menangislah ibunya sambil berdoa meminta hidayah. Dan menangis pulalah ia dan berkata; "Ya tuhanku………"
Sebelum adzan subuh dikumandangkan ia telah keluar. Ia berusaha menjadi manusia seutuhnya. Ia mencari sang Syaikh di jalan menuju masjid. Sampai akhirnya ia melihatnya dan lansung memeluknya. Terasa olehnya lebatnya jenggot sang Syaikh. Ia berkata; "Berdoalah untukku!. Syaikh senang sekali mendengar ucapan tulus pemuda itu dan ia melihat sinar yang baru terpancar dari mata fata. Syaikh berkata; "Sungguh kamu telah memenuhi panggilan ar Rahman, kamu telah mencintai kami maka kami pun telah mencintaimu……dan kamu meninggalkan kami, maka kami pun meninggalkanmu…….dan jika kamu kembali, kami pun menerimamu dengan senang hati.
Fata berkata; "Saya merasakan sumber cahaya menerobos masuk ke dalam jiwaku. Saya berharap kepada Allah, mudah-mudahan cahaya itu tidak padam dan perasaan tenang telah menyelimutiku mudah-mudahan perasaan tersebut tidak menghilang dariku selamanya”.
Kemudian ia masuk ke dalam masjid dengan tenangnya untuk shalat subuh bersama jamaah lainnya. Sungguh kebahagiaan telah mengisi sekelilingnya, kebahagiaan yang melimpah.
Sungguh ini adalah shalat yang pertama kalinya dalam hidupnya. Ia benar-benar telah merasakan kehidupan yang sesungguhnya. Kebahagiaan meliputi hatinya, seluruh tubuhnya.
Untuk pertama kalinya ia mendengar lantunan al-qur'an dibacakan kepadanya. Seakan-akan bacaan itu menyerbu masuk ke dalam hatinya, pendengarannya, pikirannya, dan perasaannya…..ia merasakan bahwa ayat itu menyejukkan hatinya.
Untuk pertama kalinya ia merasakan kemuliaan mengisi hatinya tatkala ia bersedekap dalam shalatnya yang tenang, ia shalat dengan khusyu'nya.
Untuk pertama kalinya ia merasakan kebahagiaan…..dia memiliki hati yang hidup, bergerak dan berdetak. Ia merasakan bahwa dirinya seakan-akan tidak menginjak bumi. Ia seperti berada di antara malaikat di langit yang tinggi dan indah.
Kemudian ketika ia rukuk dan meletakkan kedua tangannya dilututnya, ia merasakan seakan-akan ia berucap dengan ruhnya bukan lisannya;"subhaana Rabbiyal 'Azhiim"…ia merasakan kehinaan di hadapan kebesaran dan kekuasaan sang Khalik. Hingga ia sujud seakan-akan ia dibaiat tak sadarkan diri oleh manisnya sujud dan harumnya tasbih;"Subhaana Rabbiyal A'laa".
Dan pada tiap rakaatnya ia berharap agar diperpanjang dan diperlambat……ia seperti sedang minum dengan rasa haus yang menyengat kerongkongan………ia benar-benar diliputi kenikmatan dalam shalatnya. Disetiap sujudnya, ia mengadu kepada Rabbnya, ia merasakan kedekatan dengan-Nya. Lalu ia menagis, berdoa dan berdoa dengan tulus. Seakan-akan ia adalah shalat yang paling bermakna baginya. Ia merasakan bahwa tidak ada yang pernah merasakan kenikmatan dalam shalat selain dirinya.
Kini ia mencintai shalat, ia merasakan kenikmtan yang sesungguhnya dan kebahagiaan dalam hatinya.
Akhirnya imam salam, dan selesailah shalat subuh itu. Ia membenamkan wajahnya pada telapak tangannya seraya berdoa; "Ya tuhanku….ya tuhanku….jangan tinggalkan aku, jangan ….bawalah hamba bersamamu ya Allah!!"
Ia beranjak meninggalkan tempatnya hingga ia sampai di pojok masjid. Ia menempelkan kepalanya di dinding masjid seraya berkata; "Dimana aku selama ini?....dimanakah kenikmatan-kenikmatan yang dulu hilang begitu saja dariku?.....kemudian Syaikh menghampirinya sambil merangkulnya dan mengusap kepalanya.
Fata memperbaiki duduknya, berucap sambil menangis; "Wahai alim, bisakah saya berubah?.....apakah kamu mengira aku akan menjadi baik?.......apakah kamu yakin bahwa aku akan meneruskan ini?......apakah masalah ini begitu mudah?……setelah semua yang kuperbuat dahulu apakah ada ampunan buatku?......apakah Tuhanku akan menerimanya?......apakah Tuhanku akan menolongku?.....apakah Dia akan Ridho padaku?…….apakah saya bisa meninggalkan maksiat?....apakah saya akan menjadi kuat dengan ketaatan?……apakah saya bisa bersih dari masa laluku?......apakah saya menjadi bersih?.....apakah saya akan menjadi pemuda yang bersih dan beradab?
Apakah…….dan apakah …..pertanyaan itu tak berhenti ia lontarkan kepada Syaikh yang selau mengangguk dengan jenggotnya yang sudah memutih dan lebat. Ia hanya menjawab; "Ia…..ia……sedangkan fata tak pernah bergeming memandangi wajah Syaikh. Dan setiap kali ia mengangguk dan meng-iyakan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan si fata, seakan-akan membuka kekuatan cahaya di dalam hatinya dan membersihkan kegelapan masa lalunya.
Fata; "lantas bagaimana saya memulainya?......apa yang mesti saya perbuat sekarang?......
Syaikh; "Ucapkan dzikir bersamaku, kemudian kita belajar al-Qur'an”.
Akhirnya fata telah menemukan jati dirinya. Ia kini telah menjadi seorang pemuda yang tegar dan kuat di atas pondasi yang kokoh yaitu Islam. Sikap dan prilakunya telah berubah. Ia kini banyak berdiam di masjid dan menemani Syaikh siang malam. Jenggotnya pun tumbuh dengan lebatnya, penampilannya telah berubah menuju pada kesopanan dan kewibawaan.
Bulan dan tahun telah berlalu bersama ketaatan. Akan tetapi terkadang ia diingatkan kembali dengan masa lalunya. Ia melihat dan menyaksikan fenomena-fenomena yang terjadi di sekelilingnya. Di sana muncul kemaksiatan baru yang tidak ia dapatkan sebelumnya. Kini majalah-majalah porno telah menjadi bacaan yang mudah didapatkan bagi para anak di bawah umur, pelajar dan mahasiswa. Kemaksiatan tersebut semakin dipermudah dengan munculnya komputer dan internet.
Ia kembali diingatkan dengan masa lalunya yang penuh dengan kebebasan dan kenikmatan dunia yang fana. Namun. ia ingat Allah dan hatinya pun hanya bergantung pada-Nya. Dengan penuh harapan. Terkadang pula ia berkata dalam hati; "Aku akan bertaubat nanti dan Allah akan mengampunimu". Ia dibisiki oleh hawa nafsunya dan merasa rindu dengan kenikmatan-kenikmatan itu".
Terkadang ia menjadi asyik dengan musik, bercengkrama dengan wanita yang ia jumpai, atau ia melirik gambar-gambar perempuan, atau menonton tayangan-tayangan di televisi……sampai akhirnya ia sadar dan bersungguh-sungguh untuk bertaubat dan tidak akan jatuh atau kembali lagi.
Tahun-tahun keteguhannya dalam ketaatan terus berlalu, kini ia banyak mendengarkan kaset-kaset ceramah, ia banyak menghadiri majelis ilmu, ia banyak berteman dengan orang alim.
Akan tetapi, keimanan itu bertambah dan berkurang setiap waktu dan dengan cepatnya.
Terkadang ia mendapati dirinya pada puncak kemuliaan dalam ketaatan pada Allah.
Dan pada kesempatan yang lain ia mendapati dirinya dalam kehinaan, berjalan tanpa tujuan. Hati menjadi keras dan pandangan kelam.
Akan tetapi, ia lebih memilih kebenaran, walaupun nafsu itu lebih cenderung pada yang bathil. Ia takut kalau kemuliaan yang telah ia raih tiba-tiba sirna begitu saja. Ia menengadahkan wajahnya ke langit dan mengangkat tangannya seraya berdoa; "Yang kumiliki saat ini…..dan nantinya……..dan akhiratku……..ya Tuhanku……ya Tuhanku".
Akhi fillah, semoga kisah singkat ini membuka mata hati kita bahwa cahaya hidayah ini sangatlah berharga, jangan biarkan ia redup apalagi sampai padam dan sirna. Dalam setiap masalah minta tolonglah kepada Allah. Ista'in Billah Sataqdir.( Muhammad Husain Ya'qub, Qisshatul Iltizam/5-9 dengan beberapa perubahan)
Waktu terus berlalu, ia telah mengenyam kenikmatan sesaat itu. Ia mulai jenuh dengan semuanya. Ia merasa ada yang kurang dalam hidupnya dan membuat sesak dadanya. Ia bagaikan ikan yang kehilangan air, yah kegelisahan terus menghantuinya. Ia bergumam dalam hatinya;" Duh hatiku………!. Kesedihan pun menyelimutinya.
Ia teringat dengan kedua orang tuanya. Nak, "Sesungguhnya Allah maha pengampun dan maha penyayang”. Pesan-pesan keduanya kembali terngiang ditelinganya setelah selama ini menghilang ditelan dahsyatnya gelombang hawa nafsu. Ia tersungkur dan membenamkan wajahnya dalam pasir. Lalu ia putuskan untuk kembali kepada orang tuanya. Ia berjalan tertatih-tatih menerobos kegelapan malam tanpa arah, tak ditahu kemana. Ia mencari sesuatu yang ia sendiri tak tahu, ia mengaharapkan sesuatu yang tak pernah terlintas dalam benaknya. Ia ingin menangis namun tak kuasa. Ia ingin mencurahkan perasaannya namun siapa yang akan mendengar.
Malam pun tiba, ia mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Sementara itu ia dikagetkan dengan suara adzan yang dikumandangkan di Masjid. Ia merasakan tubuhnya bergetar hebat. Keringat dinginnya keluar. Ia berusaha menjauh dari suara itu sampai akhirnya ia berlari dan menyerempet seseorang. Keduanya pun terjatuh, ia mersa bersalah lalu segera bangkit sambil mengulurkan tangannya pada orang itu dengan maksud untuk membantunya berdiri. Ia mau minta maaf namun tak kuasa untuk mengucapkannya.
Ia bertanya dalam hati; "Siapakah orang ini?. Cahaya apa yang memancar dari wajahnya?. Apakah ia seorang malaikat?.”
Orang itu adalah Syaikh (seorang laki-laki yang sudah berusia lanjut). Sang Syaikh bergumam dalam hati; "A'udzu billah minassyaithaanirrajiim, siapakah sosok pemuda ini? Syhaithan? apakah saya mimpi?”.
Pemuda itu kembali berkata dalam hati; "Ya Allah bau apakah yang sangat harum ini?. Apakah ini bau surga?”.
Syaikh; "Bau apakah yang sangat jelek ini? (bau itu tak pernah tercium olehnya sebelumnya).”
Fata; "Ya Allah pakaian apakah yang sangat indah ini? (seakan-akan ia melihat cahaya yang bersinar dari pakaian sang Syaikh).”
Syaikh; "A'udzubillah, apakah saya tidak salah lihat?. Sosok ini laki-laki atau perempuan?. Pakaian apakah yang dikenakannya?. (Ia keheranan dengan penampilan pemuda itu).”
Kemudian sang Syaikh menengadahkan pandangannya kepada si fata itu dan ia mendapati kelopak matanya kehitaman, demikian pula pada mulut dan hidungnya. Ia juga mendapati anting-anting kecil di telinganya, rambutnya acak-acakan dengan model yang aneh bagi sang Syaikh.
Suasana menjadi hening. Keduanya adalah dua sosok yang sangat berbeda dan tak pernah menyangka bisa bertemu di tempat itu. Tiba-tiba keluar suara dari mulut si fata memecah keheningan seraya berkata; "Saya minta maaf paman yang alim". Sang Syaikh tersadar dalam keheranannya dan balik bertanya padanya; "Anda ini siapa?
Si fata kaget dan seakan-akan tak percaya kalau pertanyaan itu harus ia jawab sendiri. Dengan nada keheranan ia balik bertanya; "Siapa saya?.....benar, demi Allah saya ini siapa……..demi Allah saya tidak kenal diri saya sendiri, siapa saya?
Syaikh kemudian menepuk tangannya seakan tak percaya dengan jawaban pemuda itu, ia berkata; "Miskin sekali…….demi Allah anda adalah orang termiskin yang pernah kujumpai di dunia ini".
Fata berkata dengan herannya; "Saya miskin? Saya……!
Syaikh kemudian mengulurkan tangannya seraya bertanya; "Mau kemana nak?.” Pertanyaan Syaikh kali ini semakin bersahabat, namun semakin menambah kebingungan si fata. Ia berkata; "Sampai tujuan hidupku pun saya tidak tahu. Mau kemana?. Saya tidak tahu mau ke mana………(sepertinya pemuda tersebut telah mendapati bahwa dirinya selama ini telah tersesat ketika dilontarkan pertanyaan-pertanyaan itu padanya).
Syaikh itu bertanya kembali; "Siapa anda dan mau kemana? Jawaban pemuda tersebut tetap sama; “Siapa saya? … dan mau kemana saya?. Saya tidak tahu…….saya tidak tahu…….."
Kemudian Syaikh mengulurkan kembali tangannya seraya berkata;"Maukah kau ikut bersamaku ?”
Fata; “Bersamamu?. Kemana?”
Syaikh; "Ada pun saya, tujuan hidupku jelas. Saya tahu harus kemana yaitu menuju kepada petunjuk bagi yang tersesat, ke tempat menemukan jati diri di hadapan sang Pencipta, menuju ke rumah Allah…….rumah tuhanku.
Wahai anakku apakah kamu sudah shalat? Kenapa kamu tidak shalat?...mari kita shalat! Shalat subuh yang nikmat dan indah.
Kaki si fata menjadi kaku, tak bisa digerakkan. Ia pun berkata; "ah……..saya tidak tahu". Sepertinya dua pertanyaan Syaikh itu masih mengetuk kepalanya…..siapa anda?......mau kemana anda?..........kemudian Syaikh menarik tangannya, namun seakan si fata diam membeku bagaikan seonggok es. Kemudian ia berjalan mengikuti Syaikh itu sampai akhirnya mereka berdua tiba di ambang pintu masjid.
Syaikh itu kembali menarik tangannya. Ia bagaikan menarik benda keras. Si fata tetap terdiam di depan pintu masjid. Ia melihat cahaya yang terpancar dari dalam masjid. Matanya terpaku melihat ruku' dan sujud jamaah di dalamnya. Ia memandangi papan yang bertuliskan الله dan ayat yang berbunyi;
"Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki,"(an Nuur:35)
Pemuda tersebut terdiam sejenak di depan pintu masjid, kemudian ia menoleh ke dalam masjid seraya berkata; "Apakah saya akan masuk ke tempat suci ini dalam keadaan kotor dan berlumuran dosa seperti ini?.........bagaimana mungkin saya masuk ke tempat yang penuh cahaya ini dengan kegelapan yang menyertaiku dari dosa-dosaku selama ini?, bagaimana mungkin jiwa yang kotor ini bisa bersih bercahaya dengan memasuki pintu ini?. Bagaimana mungkin masa laluku yang kelam, bergelimang dosa ini berubah diantara orang-orang shalih itu?, atau mungkinkah cahaya itu bisa memisahkannku dari apa yang kujalani selama ini?.......mungkinkah………mungkinkah…….? tidak……tidak…….(si fata ragu dengan langkahnya dan tak percaya dengan semua yang dialaminya saat itu).
Ia kemudian berhenti di tempat menanggalkan sandal di beranda masjid. Seakan-akan tempat itu menjadi pembatas antara masa lalunya dengan cahaya di hadapannya.
Syaikh itu mendesaknya masuk, namun untuk kesekian kalinya, kaki menjadi kaku, ia tak kuasa mengangkat kakinya apalagi membuka sepatunya. Terlintas di hadapannya bayangan wanita penghibur yang sering menemaninya, juga pemuda yang mengajak dan mengajarinya mencoba untuk merokok, minum minuman keras dan menikmati obat terlarang, terbayang pula wajah ayahnya yang sudah tua menanti kepulangannya. Kepulangan anaknya yang hilang entah kemana. Juga wajah ibunya yang selalu menangis berdoa untuknya siang dan malam.
Bayangan masa lalunya terus menhantuinya, ia diam kaku di tempat itu seraya berkata; "Ah…….aku telah menguras seluruh tenagaku……kemudian ia meletakkan tangannya pada daun pintu……lalu menyandarkan kepalanya seraya berkata; "Ah…..apakah saya mampu meninggalkan semua masa lalu saya?, apakah saya bisa mengubah semua ini dalam sekejap?. …..Syaikh itu tetap mendesaknya masuk. Dan pemuda itu tetap kaku berselimut keraguan; "Tidak…..tidak….saya tidak bisa. Kemudian Syaikh berkata; "Minta tolonglah kepada Allah wahai anakku….., kamu pasti bisa, masuklah…..tidakkah kamu mendengar firman Allah;
Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(az Zumar:53)
Kemudian ia memandangi wajah dan tangan Syaikh, ia melihat tangan itu bersih bercahaya.
Tiba-tiba……..ia melepas tangannya dari genggaman Syaikh dengan kuat dan kerasnya, ia beranjak pergi menerobos lorong kegelapan, ia kembali pada kebiasaan buruknya. Ia pergi sambil berkata;"Saya tidak bisa…..saya tidak bisa….!!!
Ia kembali menyelami dan meneguk pahitnya samudera kegelapan. Ia menelusuri jalan. Pergi tak tentu arah dan tujuannya. Akhirnya ia memutuskan pulang, sesampainya di rumah, ia bergegas masuk kamar dan membenamkan wajahnya di bantal sambil menangis sejadi-jadinya. Ia teringat terus dengan pertemuannya dengan Syaikh. Seakan ia cahaya yang selalu hidup dalam kegelapan hidupnya.
Lalu ia duduk dan bertanya pada dirinya; "Kenapa belum bisa masuk dalam cahaya itu? Kenapa aku belum ridho?. Ia kembali meneriakkan keraguan dan kebimbangannya; "Apakah saya bisa?. Mungkinkah saya kembali padanya?. Apakah saya bisa lepas seutuhnya dari kebiasaan buruk ini?. Aku berharap ……..aku berharap. Demi Allah. Akan tetapi……..sungguh ini adalah pertanyaanku. Bagaimana caranya aku masuk ke dalam cahaya itu?
Kemudian ia mengangkat wajahnya dari bantal dan menatap kelangit-langit kamarnya. Namun ia tidak menemukan kata-kata yang bisa ia ucapkan kecuali satu kata; "Ya tuhanku, apakah suatu saat nanti saya bisa lepas dari judi, wanita, musik, mabuk siang malam?......apakah akan datang suatu masa yang aku bisa mensucikan diri dan bisa seperti Syaikh itu?. Ya tuhanku…..ya tuhanku….
Ia berpikir dan terus bertanya-tanya dan memandang langit-langit kamarnya. Siang malamnya berlalu di atas ranjangnya ia membolak balikkan badannya dan tidak keluar dari lisannya kecuali satu kata; "Ya tuhanku……..ya tuhanku……..
Hari pun berganti dan nampaknya hari ini adalah hari yang sangat panjang baginya. Setiap kali ia memejamkan mata, maka ia akan melihat bayangan dan khayalan……..ia kembali teringat dengan masa lalunya yang kelam. Terngiang lagi wajah teman-temannya. Teman yang biasa mengajaknya dalam hura-hura, salah seorang dari mereka adalah orang kaya, gagah dan seakan-akan semua kenikmatan di dunia ini telah dimilikinya. Namun, ajalnya berakhir dengan narkoba, terngiang pula wajah perempuan idamannya yang mati secara tiba-tiba tanpa sebab. Bahkan ia dalam keadaan tertidur. Terngiang pula wajah keenam sahabatnya yang mati dalam peristiwa tabrakan. Mereka mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan. Tubuh mereka hancur bersama mobil yang ditumpanginya.
Semua peristiwa-peristiwa itu silih berganti mengisi bayangan-banyangan dan khayalan-khayalannya. Siapa yang mati dan siapa yang masuk rumah sakit, siapa masuk penjara?. Kemudian ia bergegas berdiri dan menangis dengan kerasnya dan berkata pada dirinya; "Apa yang saya tunggu?. Apakah saya menunggu untuk mati konyol dan menjadi korban lagi seperti mereka?, ataukah lebih parah dari mereka?. Apakah saya harus mengikuti jalan-jalan mereka?.
Tiba-tiba air matanya berhenti mengalir dan kering. Ia seakan mengumpulkan kekuatannya lalu berkata; "Aku harus mengubah hidupku ini…….saya harus melawan hawa kegelapan yang senantiasa mengintai dan menungguku…….harus …harus….ya tuhanku…..ya tuhanku…..
Ia pun mengupayakan untuk melupakan masa lalunya dengan tidur. Namun tetap tak bisa. Ia tetap gelisah dalam harinya yang panjang itu sampai malam mendatanginya.
Seperti biasanya ia keluar pada awal malam dan demikianlah keadaan pecinta kegelapan. Senantiasa menghidupkan malamnya. Ia pun bertemu dan bergabung dengan teman buruknya. Ia keluar bersama mereka.
Namun, kali ini ia duduk dalam mobil dengan terdiam seribu bahasa. Ia tidak menghiraukan temannya yang sedang bercanda dan tertawa terbahak-bahak. Setibanya di diskotik ia pun tidak ikut menikmati kenikmatan kenikmatan yang disuguhkan padanya malam itu.
Ia belum bisa melupakan wajah Syaikh yang baik itu. Bahkan setiap kali ia menoleh, tiba-tiba ia di datangi oleh bayangan sang Syaikh yang mengulurkan tangannya. Dan berkata padanya; "Minta tolonglah kepada Allah, kamu pasti bisa", kemudian ia berusaha menghilangkan bayangan-bayangan itu dengan bertelekan bersama teman-temannya. Namun ia tak kuasa….kembali perkataan Syaikh terdengar olehnya; "Minta tolonglah kepada Allah kamu pasti bisa". Ista'in billah sataqdir berulang kali ia mencoba untuk melupakannya namun sepertinya ia merasa semua usahanya sia-sia saja.
Secara tiba-tiba ia berdiri dari tempat itu seraya berkata;"saya minta pamit!! terkesimalah syaithan-syaithan dari manusia yang ada di tempat itu;"ada apa denganmu?' ia menjawab;"tidak ada apa-apa". Ia berusaha dengan segala cara untuk meyakinkan teman-temannya sehingga ia bisa meninggalkan tempat maksiat itu dan pulang ke rumah.
Ia pun sampai di rumah dan menemui ayahnya. Berkata ayahnya; "Suatu kebaikan wahai anakku, tidak biasanya kamu pulang secepat ini, apa yang terjadi padamu?. Kemudian ia memeluk ayahnya sambil menangis". Sungguh saya akan mengubah manusia yang ada di hadapanmu ini wahai ayahku!".
Kemudian ia beranjak menuju kekamarnya untuk mengganti pakaiannya dan menuju ke kamara mandi. Ia mandi dengan bersihnya. Seakan ini adalah pertama kalinya ia mandi selama hidupnya. Ia menggosok gigi dengan bersih. Ia membersihkan kotoran dari kebiasaan buruknya. Ia merasakan bahwa ia benar-benar telah membersihkan dirinya kemudian ia bersyahadat ;"laa ilaaha illallah" seperti halnya orang yang baru masuk Islam. Lalu ia menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar dengan penuh harap untuk mendapatkan rahmat turun dari langit.
Kemudian ia berpakaian dengan rapi. Ia keluar menemui ibunya. Kepalanya tertunduk seraya berkata; "Maafkanlah anakmu ini wahai ibuku…..dimanakah sajadah? Dan menangislah ibunya sambil berdoa meminta hidayah. Dan menangis pulalah ia dan berkata; "Ya tuhanku………"
Sebelum adzan subuh dikumandangkan ia telah keluar. Ia berusaha menjadi manusia seutuhnya. Ia mencari sang Syaikh di jalan menuju masjid. Sampai akhirnya ia melihatnya dan lansung memeluknya. Terasa olehnya lebatnya jenggot sang Syaikh. Ia berkata; "Berdoalah untukku!. Syaikh senang sekali mendengar ucapan tulus pemuda itu dan ia melihat sinar yang baru terpancar dari mata fata. Syaikh berkata; "Sungguh kamu telah memenuhi panggilan ar Rahman, kamu telah mencintai kami maka kami pun telah mencintaimu……dan kamu meninggalkan kami, maka kami pun meninggalkanmu…….dan jika kamu kembali, kami pun menerimamu dengan senang hati.
Fata berkata; "Saya merasakan sumber cahaya menerobos masuk ke dalam jiwaku. Saya berharap kepada Allah, mudah-mudahan cahaya itu tidak padam dan perasaan tenang telah menyelimutiku mudah-mudahan perasaan tersebut tidak menghilang dariku selamanya”.
Kemudian ia masuk ke dalam masjid dengan tenangnya untuk shalat subuh bersama jamaah lainnya. Sungguh kebahagiaan telah mengisi sekelilingnya, kebahagiaan yang melimpah.
Sungguh ini adalah shalat yang pertama kalinya dalam hidupnya. Ia benar-benar telah merasakan kehidupan yang sesungguhnya. Kebahagiaan meliputi hatinya, seluruh tubuhnya.
Untuk pertama kalinya ia mendengar lantunan al-qur'an dibacakan kepadanya. Seakan-akan bacaan itu menyerbu masuk ke dalam hatinya, pendengarannya, pikirannya, dan perasaannya…..ia merasakan bahwa ayat itu menyejukkan hatinya.
Untuk pertama kalinya ia merasakan kemuliaan mengisi hatinya tatkala ia bersedekap dalam shalatnya yang tenang, ia shalat dengan khusyu'nya.
Untuk pertama kalinya ia merasakan kebahagiaan…..dia memiliki hati yang hidup, bergerak dan berdetak. Ia merasakan bahwa dirinya seakan-akan tidak menginjak bumi. Ia seperti berada di antara malaikat di langit yang tinggi dan indah.
Kemudian ketika ia rukuk dan meletakkan kedua tangannya dilututnya, ia merasakan seakan-akan ia berucap dengan ruhnya bukan lisannya;"subhaana Rabbiyal 'Azhiim"…ia merasakan kehinaan di hadapan kebesaran dan kekuasaan sang Khalik. Hingga ia sujud seakan-akan ia dibaiat tak sadarkan diri oleh manisnya sujud dan harumnya tasbih;"Subhaana Rabbiyal A'laa".
Dan pada tiap rakaatnya ia berharap agar diperpanjang dan diperlambat……ia seperti sedang minum dengan rasa haus yang menyengat kerongkongan………ia benar-benar diliputi kenikmatan dalam shalatnya. Disetiap sujudnya, ia mengadu kepada Rabbnya, ia merasakan kedekatan dengan-Nya. Lalu ia menagis, berdoa dan berdoa dengan tulus. Seakan-akan ia adalah shalat yang paling bermakna baginya. Ia merasakan bahwa tidak ada yang pernah merasakan kenikmatan dalam shalat selain dirinya.
Kini ia mencintai shalat, ia merasakan kenikmtan yang sesungguhnya dan kebahagiaan dalam hatinya.
Akhirnya imam salam, dan selesailah shalat subuh itu. Ia membenamkan wajahnya pada telapak tangannya seraya berdoa; "Ya tuhanku….ya tuhanku….jangan tinggalkan aku, jangan ….bawalah hamba bersamamu ya Allah!!"
Ia beranjak meninggalkan tempatnya hingga ia sampai di pojok masjid. Ia menempelkan kepalanya di dinding masjid seraya berkata; "Dimana aku selama ini?....dimanakah kenikmatan-kenikmatan yang dulu hilang begitu saja dariku?.....kemudian Syaikh menghampirinya sambil merangkulnya dan mengusap kepalanya.
Fata memperbaiki duduknya, berucap sambil menangis; "Wahai alim, bisakah saya berubah?.....apakah kamu mengira aku akan menjadi baik?.......apakah kamu yakin bahwa aku akan meneruskan ini?......apakah masalah ini begitu mudah?……setelah semua yang kuperbuat dahulu apakah ada ampunan buatku?......apakah Tuhanku akan menerimanya?......apakah Tuhanku akan menolongku?.....apakah Dia akan Ridho padaku?…….apakah saya bisa meninggalkan maksiat?....apakah saya akan menjadi kuat dengan ketaatan?……apakah saya bisa bersih dari masa laluku?......apakah saya menjadi bersih?.....apakah saya akan menjadi pemuda yang bersih dan beradab?
Apakah…….dan apakah …..pertanyaan itu tak berhenti ia lontarkan kepada Syaikh yang selau mengangguk dengan jenggotnya yang sudah memutih dan lebat. Ia hanya menjawab; "Ia…..ia……sedangkan fata tak pernah bergeming memandangi wajah Syaikh. Dan setiap kali ia mengangguk dan meng-iyakan sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan si fata, seakan-akan membuka kekuatan cahaya di dalam hatinya dan membersihkan kegelapan masa lalunya.
Fata; "lantas bagaimana saya memulainya?......apa yang mesti saya perbuat sekarang?......
Syaikh; "Ucapkan dzikir bersamaku, kemudian kita belajar al-Qur'an”.
Akhirnya fata telah menemukan jati dirinya. Ia kini telah menjadi seorang pemuda yang tegar dan kuat di atas pondasi yang kokoh yaitu Islam. Sikap dan prilakunya telah berubah. Ia kini banyak berdiam di masjid dan menemani Syaikh siang malam. Jenggotnya pun tumbuh dengan lebatnya, penampilannya telah berubah menuju pada kesopanan dan kewibawaan.
Bulan dan tahun telah berlalu bersama ketaatan. Akan tetapi terkadang ia diingatkan kembali dengan masa lalunya. Ia melihat dan menyaksikan fenomena-fenomena yang terjadi di sekelilingnya. Di sana muncul kemaksiatan baru yang tidak ia dapatkan sebelumnya. Kini majalah-majalah porno telah menjadi bacaan yang mudah didapatkan bagi para anak di bawah umur, pelajar dan mahasiswa. Kemaksiatan tersebut semakin dipermudah dengan munculnya komputer dan internet.
Ia kembali diingatkan dengan masa lalunya yang penuh dengan kebebasan dan kenikmatan dunia yang fana. Namun. ia ingat Allah dan hatinya pun hanya bergantung pada-Nya. Dengan penuh harapan. Terkadang pula ia berkata dalam hati; "Aku akan bertaubat nanti dan Allah akan mengampunimu". Ia dibisiki oleh hawa nafsunya dan merasa rindu dengan kenikmatan-kenikmatan itu".
Terkadang ia menjadi asyik dengan musik, bercengkrama dengan wanita yang ia jumpai, atau ia melirik gambar-gambar perempuan, atau menonton tayangan-tayangan di televisi……sampai akhirnya ia sadar dan bersungguh-sungguh untuk bertaubat dan tidak akan jatuh atau kembali lagi.
Tahun-tahun keteguhannya dalam ketaatan terus berlalu, kini ia banyak mendengarkan kaset-kaset ceramah, ia banyak menghadiri majelis ilmu, ia banyak berteman dengan orang alim.
Akan tetapi, keimanan itu bertambah dan berkurang setiap waktu dan dengan cepatnya.
Terkadang ia mendapati dirinya pada puncak kemuliaan dalam ketaatan pada Allah.
Dan pada kesempatan yang lain ia mendapati dirinya dalam kehinaan, berjalan tanpa tujuan. Hati menjadi keras dan pandangan kelam.
Akan tetapi, ia lebih memilih kebenaran, walaupun nafsu itu lebih cenderung pada yang bathil. Ia takut kalau kemuliaan yang telah ia raih tiba-tiba sirna begitu saja. Ia menengadahkan wajahnya ke langit dan mengangkat tangannya seraya berdoa; "Yang kumiliki saat ini…..dan nantinya……..dan akhiratku……..ya Tuhanku……ya Tuhanku".
Akhi fillah, semoga kisah singkat ini membuka mata hati kita bahwa cahaya hidayah ini sangatlah berharga, jangan biarkan ia redup apalagi sampai padam dan sirna. Dalam setiap masalah minta tolonglah kepada Allah. Ista'in Billah Sataqdir.( Muhammad Husain Ya'qub, Qisshatul Iltizam/5-9 dengan beberapa perubahan)
Ruqyah Syar’iyyah
Kursus Bahasa Arab
0 komentar:
Posting Komentar